Puisi, Cinta, dan Wajah Bangsa

Seni sebagai Kesaksian Moral, Literasi sebagai Jalan Kemanusiaan

“Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.”
— John F. Kennedy

Kutipan John F. Kennedy (JFK) tersebut bukan sekadar pernyataan retoris tentang keindahan sastra. Penegasan posisi seni sebagai kekuatan moral yang bekerja di luar logika kekuasaan. Ketika politik kehilangan nurani, sastra hadir sebagai ruang kejujuran. Ketika kekuasaan menutup telinga, puisi berbicara dengan bahasa yang lebih jujur dan manusiawi.

Pernyataan itu disampaikan JFK dalam pidatonya di Amherst College pada tahun 1963, beberapa bulan sebelum ia wafat. Dalam pidato tersebut, JFK menegaskan bahwa seni berfungsi mengingatkan manusia termasuk para pemegang kekuasaan akan keterbatasan dirinya. Seni, menurutnya, membersihkan ketika kekuasaan merusak dan meluruskan ketika politik menyimpang.

Pemikiran inilah yang menjadi landasan keterlibatan saya dalam dunia seni dan sastra, sebuah pilihan jalan hidup yang kerap dipertanyakan. Mengapa sastra? Mengapa puisi? Mengapa cinta dan luka dijadikan medium refleksi sosial?

Jawabannya sederhana sekaligus mendasar: karena di sanalah kemanusiaan masih dapat diselamatkan.

Romansa Cinta: Membaca Luka, Merawat Literasi, Menegakkan Kemanusiaan

Kabupaten Tangerang, Sabtu (3/1/2026), menjadi saksi pertemuan gagasan dalam kegiatan bedah buku antologi Romansa Cinta. Buku ini tidak lahir dari romantisme semu, melainkan dari pembacaan jujur atas pengalaman manusia: mencintai, terluka, bertahan, dan belajar.

Dalam salah satu cerpen berjudul Kesetiaan Lelakimu, saya menulis kalimat sederhana:
“Mencintai berarti berkorban dan melakukan yang terbaik untuk yang dicintai.”

Kalimat ini kemudian menjadi pintu masuk diskusi yang lebih luas tentang cinta sebagai pengalaman eksistensial manusia. Cinta tidak selalu berakhir bahagia. Ia kerap hadir bersama luka, kehilangan, dan pengkhianatan. Namun justru dari sanalah manusia belajar mengenali dirinya sendiri.

Dalam diskusi tersebut, saya mengutip pemikiran Kyai Husein Muhammad, yang menegaskan bahwa setiap manusia pernah berada dalam posisi terluka entah sebagai korban pengkhianatan, ketidakadilan, atau penolakan. Masalahnya bukan pada luka itu sendiri, melainkan pada ketiadaan ruang untuk mengolahnya.

Membaca dan menulis menjadi salah satu ruang aman untuk merawat luka-luka itu.

Literasi, dalam konteks ini, bukan sekadar aktivitas akademik. Merupakan praktik kemanusiaan. Mereka yang tidak memiliki ruang untuk berbicara sering kali menemukan suara mereka dalam teks. Mereka yang tidak mampu menangis menemukan katarsis dalam cerita orang lain.

Menulis, bagi saya, bukan hanya tentang merajut pengalaman pribadi, tetapi juga tentang memberi suara pada luka-luka yang tidak terdengar.

Pembaca, Ego, dan Proses Peleburan Diri

Diskusi berkembang pada pertanyaan tentang siapa target pembaca Romansa Cinta. Jawabannya tidak sederhana. Buku ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang sedang patah hati, tetapi juga bagi mereka yang selama ini berlindung di balik ego.

Beberapa pembaca mengulas bahwa setelah membaca antologi ini, mereka merasa “runtuh” bukan dalam arti negatif, melainkan sebagai proses pelepasan pertahanan diri. Ego yang selama ini mengeras perlahan melebur, memberi ruang bagi empati.

Di titik inilah sastra bekerja, tidak menggurui, tidak memaksa, tetapi mengajak pembaca masuk ke dalam pengalaman manusia yang paling dasar.

Sastra yang Melampaui Teks

Antologi Romansa Cinta tidak berhenti sebagai teks tertulis. Puisi-puisi di dalamnya diolah menjadi lagu pengantar, memperluas jangkauan ekspresi seni. Saat ini, antologi tersebut juga tengah direncanakan untuk diadaptasi ke dalam film.

Lebih dari itu, pembelian buku ini menjadi bagian dari gerakan sosial. Hasil penjualan disalurkan untuk mendukung Rumah Pengasuhan Anak dan Pendidikan Keluarga, sebuah inisiatif yang bertujuan membangun ketahanan keluarga dan literasi sejak dini.

Sastra, dalam konteks ini, tidak berdiri di menara gading. hadir di tengah masyarakat, bekerja secara nyata, dan berpihak pada kehidupan.

Ibu Bangsa, Cermin Wajah Bangsa

Refleksi Kemanusiaan dan Kesadaran Kebangsaan

Buku Ibu Bangsa, Cermin Wajah Bangsa lahir dari kegelisahan yang lebih luas: bagaimana wajah Indonesia hari ini dibentuk oleh cara kita memperlakukan manusia, terutama perempuan, anak, dan kelompok rentan.

Bangsa tidak semata entitas politik. Tapi ruang hidup bersama. Dalam buku ini, figur “ibu” dihadirkan sebagai metafora kebangsaan merupakan simbol kasih, pengorbanan, ketahanan, dan tanggung jawab moral.

Cara sebuah bangsa memperlakukan para ibu adalah cermin peradabannya.

Kemanusiaan sebagai Fondasi Berpikir

Tulisan-tulisan dalam buku ini berangkat dari peristiwa konkret: ketidakadilan sosial, konflik kemanusiaan, krisis lingkungan, hingga budaya kekuasaan yang abai terhadap nurani rakyat.

Isu global dibaca melalui lensa etika dan empati. Keberanian moral seorang pemimpin, sebagaimana tercermin dalam pidato-pidato dunia, diposisikan sebagai perlawanan terhadap dominasi kekuatan global yang menindas.

Di tingkat nasional, problem serupa hadir dalam bentuk ketimpangan, eksploitasi sumber daya, dan kebijakan pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan.

Perempuan dan Peradaban

Perempuan, dalam buku ini, tidak selalu hadir sebagai aktor kekuasaan formal, tetapi sebagai penjaga nilai. Mereka adalah agen peradaban yang bekerja dalam senyap.

Kontestasi kecantikan dan industri budaya dikritisi secara jujur: sejauh mana ibenar-benar memberdayakan, dan sejauh mana justru mereproduksi logika kapitalisme yang mereduksi martabat perempuan.

Ibu bangsa bukan soal mahkota, melainkan soal nilai.

Literasi sebagai Jalan Kesadaran

Di tengah banjir informasi dan disrupsi digital, literasi menjadi benteng terakhir nalar publik. Literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi keberanian berpikir kritis dan bersikap etis.

Bangsa yang besar tidak hanya ditopang ekonomi, tetapi oleh integritas moral warganya. Dalam hal ini, sastra dan pengetahuan menjadi senjata paling manusiawi.

Penutup: Merawat Wajah Bangsa

Pada akhirnya, buku dan karya-karya ini adalah ajakan untuk bercermin. Masa depan bangsa ditentukan oleh pilihan moral hari ini.

Jika politik bengkok, sastra harus meluruskannya.
Jika kekuasaan tuli, puisi harus berbicara.

Daftar Referensi

  1. Kennedy, John F. Remarks at Amherst College. 26 Oktober 1963.
    https://www.jfklibrary.org/archives/other-resources/john-f-kennedy-speeches/amherst-college-19631026
  2. Husein Muhammad. Islam, Perempuan, dan Keadilan.
    https://wahidinstitute.org
  3. Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed.
    https://www.goodreads.com/book/show/72657.Pedagogy_of_the_Oppressed
  4. Nussbaum, Martha. Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities.
    https://press.princeton.edu/books/paperback/9780691154488/not-for-profit
  5. Lagu Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
    https://youtu.be/3DqneIk66jM

Profil Penulis

Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti

Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu

Pemesanan Buku: 0895-2001-8812

Novita sari yahya
Novita sari yahya
Articles: 4

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *