Cinta atau Lapar?

Jantungku berdebar—
jelas karena aku istimewa.
Badan gemetar,
mungkin semesta gugup menatap pesonaku.

Panas dingin menjalar,
aku pikir ini gejala asmara,
atau barangkali dunia terlalu terpesona
hingga lupa menyalakan AC.

Aku menatap cermin,
tersenyum penuh makna:
“Ah, beginikah rasanya jatuh cinta
pada seseorang yang sempurna?”

Ternyata tidak.
Ini bukan rindu.
Bukan asmara.
Bukan puisi patah hati.

Ini perutku
yang menuntut pengakuan.

Maaf ya, cinta,
hari ini aku narsis dulu setelah makan,
baru kita bicara .

Manifesto Cinta yang Salah Diagnosa

Jantungku berdebar.
Dokter bilang ini cinta.
Cermin bilang ini karisma.
Perut bilang: bohong.

Badan gemetar bukan karena rindu,
tapi karena molekul semesta
tak sanggup menahan aura wajahku.

Panas dingin.
Aku kira hormon.
Ternyata cuaca ikut bingung
melihat aku terlalu memesona.

Aku menulis namamu di udara,
udara tidak membalas.
Aku menulis namaku di cermin,
cermin berdiri dan bertepuk tangan.

“Ini cinta,” kataku dramatis,
sambil menatap langit
yang sebenarnya cuma plafon.

Namun kemudian…
bunyi paling jujur di dunia terdengar:
kruk kruk kruk.

Itu bukan puisi.
Itu bukan metafora.
Itu pengakuan perut
yang tak mau ikut narsis.

Kesimpulan ilmiah hari ini:
aku tidak jatuh cinta.
Aku jatuh lapar.

Dan lapar,
seperti aku,
tak bisa diabaikan. 🍜😌

Fix Ini Cinta (Eh, Lapar)

Jantung berdebar.
Badan gemetar.
Panas dingin.
Aku mikir, anjay… kok kaya sinetron?

Aku kira jatuh cinta.
Padahal aku jatuh…
ke dapur.

Aku stalking perasaan sendiri,
overthinking level dewa.
“Ini deg-degan karena kamu, ya?”
Perut jawab: bro, itu belum makan.

Aku ngaca.
Ngaca balik naksir.
Self-love naik,
logika turun.

Kepala bilang: ini vibes asmara.
Hati bilang: iya kali.
Perut bilang: tolong, mi instan sekarang.

Plot twist:
ini bukan cinta.
Ini low battery.

Maaf ya, perasaan,
hari ini aku cancel dulu.
Setelah makan,
baru kita bahas hubungan. 🍜📉❤️

Epistemologi Rasa (Sebuah Kesalahan Tafsir)

Jantung berdebar.
Tubuh gemetar.
Fluktuasi panas dan dingin
menyerupai gejala afeksi
dalam literatur populer.

Hipotesis awal: cinta.
Argumen diperkuat oleh
pengalaman estetis diri sendiri
yang, harus diakui, cukup meyakinkan.

Subjek (aku)
menjadi objek kontemplasi.
Cermin berfungsi sebagai peer reviewer
dan menyetujui hampir seluruh klaim.

Namun data tak sepenuhnya koheren.
Ada kontradiksi dari wilayah viseral.
Sebuah suara non-retoris
menginterupsi narasi romantik.

Bunyi itu bukan metafora.
Bukan pula simbol eksistensial.
Ia bersifat material, konkret,
dan menuntut solusi segera.

Revisi kesimpulan:
ini bukan cinta,
melainkan kekeliruan interpretasi
atas tubuh yang belum diberi asupan.

Catatan kaki pribadi:
sebelum membahas perasaan,
sebaiknya makan terlebih dahulu.

Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

Novita sari yahya
Novita sari yahya
Articles: 4

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *