Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Dunia yang Tidak Pernah Benar-Benar Damai
Dunia modern kerap dibingkai oleh narasi besar tentang perdamaian, kerja sama internasional, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Forum-forum global, pidato kenegaraan, serta resolusi internasional terus mengulang idealisme tersebut sebagai fondasi hubungan antarnegara. Namun, realitas geopolitik menunjukkan bahwa dunia tidak pernah benar-benar bergerak dalam kondisi setara dan adil. Konflik bersenjata, sanksi ekonomi, intervensi militer, serta penggulingan rezim masih menjadi bagian dari dinamika internasional yang berlangsung hingga hari ini.
Dalam konteks inilah isu senjata nuklir kembali mengemuka, bukan semata sebagai alat pemusnah massal, melainkan sebagai simbol kekuatan, instrumen deterrence, dan jaminan keamanan negara. Senjata nuklir tidak lagi hanya dipahami dalam kerangka kehancuran, tetapi juga sebagai alat tawar paling efektif dalam sistem internasional yang masih didominasi politik kekuatan.
Sebuah cuplikan video yang beredar luas di media sosial menampilkan pernyataan Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, yang menyatakan bahwa negara yang bertumpu pada nuklir tidak akan mencapai kemajuan ekonomi dan perdamaian dunia. Pernyataan ini mencerminkan idealisme moral global yang banyak dianut negara-negara non-nuklir. Namun, respons singkat Presiden Rusia Vladimir Putin, “Saddam Hussein juga berpikir begitu,” membuka ruang refleksi yang jauh lebih dalam tentang makna keamanan dan kedaulatan dalam dunia yang tidak setara.
Dialog Singkat yang Membuka Realitas Panjang
Komentar Putin tersebut, meskipun singkat, mengandung pesan geopolitik yang kuat. Ia merujuk pada nasib Saddam Hussein, pemimpin Irak yang negaranya diserang Amerika Serikat dan sekutunya pada 2003 dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal yang kemudian tidak pernah ditemukan. Dalam perspektif realisme politik, ketiadaan senjata nuklir membuat Irak tidak memiliki daya cegah strategis untuk mencegah invasi dan perubahan rezim.
Kasus Irak sering dijadikan rujukan dalam diskursus keamanan internasional sebagai contoh bagaimana moral global dan hukum internasional dapat dikalahkan oleh kepentingan strategis negara besar. Ketika suatu negara tidak memiliki kemampuan deterrence yang memadai, kedaulatannya menjadi lebih mudah diganggu, bahkan diabaikan.
Dalam sistem internasional yang anarkis, tidak ada otoritas tertinggi yang benar-benar mampu melindungi negara lemah. Oleh karena itu, keamanan nasional pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan negara itu sendiri untuk menciptakan biaya tinggi bagi pihak yang berniat menyerang.
Nuklir dan Posisi Tawar dalam Geopolitik Global
Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah apakah senjata nuklir benar-benar menjadi posisi tawar paling ampuh bagi sebuah negara. Sejarah kontemporer menunjukkan pola yang sulit dibantah. Negara-negara yang memiliki senjata nuklir relatif tidak pernah mengalami invasi militer langsung oleh kekuatan besar, sementara negara non-nuklir cenderung lebih rentan terhadap tekanan politik, ekonomi, maupun militer.
Selain Irak, Libya juga menjadi contoh nyata. Muammar Gaddafi pada awal 2000-an memutuskan menghentikan program senjata pemusnah massalnya dan membuka diri terhadap Barat. Namun, satu dekade kemudian, Libya justru menjadi sasaran intervensi militer NATO yang berujung pada runtuhnya rezim dan kekacauan berkepanjangan. Absennya kemampuan deterrence strategis membuat Libya tidak memiliki alat tawar yang cukup kuat untuk melindungi kedaulatannya.
Contoh lain yang sering dibahas adalah Ukraina. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Ukraina mewarisi persenjataan nuklir terbesar ketiga di dunia. Namun, melalui Budapest Memorandum 1994, Ukraina menyerahkan senjata nuklirnya dengan jaminan keamanan dari Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris. Kenyataannya, jaminan tersebut tidak mampu mencegah aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014 dan konflik berkepanjangan yang menyusul. Kasus ini semakin memperkuat pandangan bahwa jaminan politik tanpa kekuatan strategis sering kali tidak cukup.
Rusia dan Amerika Serikat: Dominasi Nuklir Global
Hingga saat ini, Rusia dan Amerika Serikat masih mendominasi kekuatan nuklir dunia. Kedua negara memiliki ribuan hulu ledak nuklir dengan sistem pengiriman canggih, mulai dari rudal balistik antarbenua, kapal selam nuklir, hingga pembom strategis. Kepemilikan ini bukan sekadar warisan Perang Dingin, melainkan bagian dari strategi pertahanan yang terus diperbarui.
Dominasi nuklir ini menjadikan Rusia dan Amerika Serikat aktor utama dalam menentukan stabilitas strategis global. Ancaman penggunaan nuklir, meskipun jarang diungkapkan secara eksplisit, selalu membayangi setiap eskalasi konflik antara kekuatan besar. Dalam berbagai krisis internasional, keberadaan senjata nuklir berfungsi sebagai batas tak kasatmata yang mencegah konflik berkembang menjadi perang terbuka berskala global.
Ultimatum dan pernyataan keras dari para pemimpin negara besar sering kali tidak dapat dilepaskan dari realitas kepemilikan nuklir. Senjata ini menjadi kartu terakhir yang menentukan arah dan batas konflik.
Korea Utara: Nuklir sebagai Jaminan Eksistensial
Korea Utara merupakan contoh paling jelas bagaimana senjata nuklir digunakan sebagai alat bertahan hidup negara dan rezim. Di tengah sanksi internasional yang berat dan isolasi diplomatik, Pyongyang tetap bertahan dengan mengembangkan senjata nuklir dan sistem pengiriman rudal balistik.
Bagi Korea Utara, nuklir berfungsi sebagai pencegah utama terhadap ancaman eksternal, terutama dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Kemampuan serangan nuklir membuat opsi militer terhadap Korea Utara menjadi sangat berisiko. Selain itu, program nuklir juga menjadi alat tawar dalam diplomasi untuk memperoleh bantuan ekonomi, pelonggaran sanksi, atau pengakuan politik.
Dalam kerangka ideologi Juche dan kebijakan byungjin, nuklir tidak hanya dipahami sebagai senjata, tetapi juga simbol kemandirian nasional dan ketahanan ideologis.
Iran dan Kekuatandi Ambang Nuklir
Iran menempuh jalur yang lebih kompleks. Secara resmi, Teheran menyatakan program nuklirnya bertujuan damai. Namun, pengembangan kemampuan pengayaan uranium, pembangunan fasilitas bawah tanah seperti Fordow, serta pengembangan rudal balistik menunjukkan strategi pencegahan yang matang.
Tekanan dan sanksi internasional justru mendorong Iran untuk memperkuat kemampuan domestiknya. Program nuklir menjadi isu pemersatu yang memperkuat legitimasi politik pemerintah di mata publik. Dengan menjaga posisi di ambang kemampuan nuklir, Iran menciptakan ketegangan strategis yang memaksa lawan-lawannya untuk terus membuka ruang negosiasi.
Dalam konteks ini, nuklir berfungsi sebagai alat tawar politik yang efektif, meskipun secara resmi Iran tetap menolak tudingan pengembangan senjata nuklir.
Paradoks Perdamaian dan Senjata Nuklir
Di satu sisi, senjata nuklir dipandang sebagai ancaman terbesar bagi umat manusia. Di sisi lain, nuklir justru dianggap sebagai penjamin perdamaian melalui mekanisme deterrence. Paradoks inilah yang membuat dunia terjebak dalam keseimbangan rapuh antara ketakutan dan stabilitas.
Negara-negara yang memilih jalur non-nuklir sering dihadapkan pada dilema keamanan. Tanpa kemampuan strategis yang setara, kedaulatan mereka lebih mudah ditekan oleh kekuatan besar. Dalam konteks ini, idealisme dunia tanpa nuklir kerap berbenturan dengan realitas politik internasional yang masih sarat ketimpangan.
Penutup: Realisme yang Mengungkapkan Fakta.
Pernyataan Presiden Kazakhstan tentang pentingnya fokus pada ekonomi dan keharmonisan global mencerminkan dunia yang diidealkan. Namun, respons singkat Vladimir Putin mencerminkan dunia sebagaimana adanya. Selama sistem internasional masih didominasi politik kekuatan, senjata nuklir akan tetap menjadi faktor penentu dalam menjaga kedaulatan dan kelangsungan hidup negara.
Pertanyaan tentang nuklir adalah persoalan eksistensi. Dalam dunia yang belum sepenuhnya damai, nuklir tetap menjadi bargaining position paling ampuh, sebuah kenyataan pahit yang terus menghantui era sekarang.
Daftar Referensi
CNBC Indonesia. Putin & Xi Jinping Respons Trump Serang Venezuela, Tangkap Maduro.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20260105104721-4-699639/putin-xi-jinping-respons-trump-serang-venezuela-tangkap-maduro
SINDOnews Internasional. Adu Kekuatan Senjata Nuklir Rusia vs Amerika Serikat.
https://international.sindonews.com/read/1471211/45/adu-kekuatan-senjata-nuklir-rusia-vs-amerika-serikat-siapa-unggul-1728637827
CNBC Indonesia Research. Ngeri! 1 Bom Nuklir Rusia Bisa Tewaskan Jutaan Orang.
https://www.cnbcindonesia.com/research/20230331082442-128-426051/ngeri-1-bom-nuklir-rusia-bisa-tewaskan-6-juta-orang-sekejap
GoodStats. Rusia dan Amerika Dominasi Kekuatan Nuklir Dunia 2025.
https://data.goodstats.id/statistic/rusia-dan-amerika-dominasi-kekuatan-nuklir-dunia-2025-4MGsw
Arms Control Association. Arms Control and Proliferation Profile: Russia.
https://www.armscontrol.org/factsheets/arms-control-and-proliferation-profile-russia
CNN Indonesia. Ultimatum Keras Putin: Rusia Menang Jika Eropa Memulai Perang.
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20251203073546-134-1302130/ultimatum-keras-putin-rusia-menang-jika-eropa-memulai-perang
Kompas.id. Apa Alasan AS Menyerang Venezuela dan Menangkap Presiden Maduro.
https://www.kompas.id/artikel/apa-alasan-as-menyerang-venezuela-dan-menangkap-presiden-maduro
Detik.com. Reaksi Keras Rusia hingga China Usai AS Tangkap Presiden Venezuela.
https://news.detik.com/internasional/d-8292101/reaksi-keras-rusia-hingga-china-usai-as-tangkap-presiden-venezuela
Novita sari yahya
Penulis dan peneliti
Buku yang Diterbitkan: