Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Oleh: Novita Sari Yahya.
Fondasi Pacaran Sehat dan Ketahanan Keluarga Indonesia
Pendahuluan
Remaja Indonesia berada pada persimpangan penting dalam siklus kehidupan. Di satu sisi, mereka adalah generasi penerus yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia bangsa. Di sisi lain, mereka menghadapi tantangan besar berupa perubahan biologis, tekanan sosial, arus informasi digital tanpa batas, serta minimnya ruang aman untuk bertanya dan berdiskusi. Persoalan pacaran remaja, kesehatan reproduksi, dan kesehatan jiwa tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan moral semata, melainkan sebagai isu kebijakan publik yang berkaitan langsung dengan ketahanan keluarga dan pembangunan nasional.
Data berbagai lembaga menunjukkan bahwa kehamilan tidak diinginkan, pernikahan usia dini, penyalahgunaan zat, serta gangguan kesehatan mental pada remaja masih menjadi masalah serius. Kondisi ini menandakan bahwa pendekatan kebijakan yang selama ini diterapkan belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan, yakni lemahnya ketahanan diri remaja. Salah satu pendekatan yang perlu diperkuat dalam kebijakan publik adalah pengarusutamaan konsep self love sebagai rumah perlindungan diri remaja.
Remaja dan Kerentanan Perkembangan
Secara psikologis, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri. Santrock (2019) menjelaskan bahwa remaja berada pada tahap perkembangan yang ditandai dengan meningkatnya sensitivitas emosi dan kebutuhan akan penerimaan sosial. Pada fase ini, pengaruh teman sebaya sering kali lebih dominan dibandingkan nasihat orang tua atau guru. Tanpa pendampingan yang memadai, remaja mudah terjerumus pada perilaku berisiko sebagai bentuk pencarian identitas dan pengakuan.
Kerentanan ini semakin diperparah oleh minimnya literasi kesehatan reproduksi dan kesehatan jiwa. Banyak remaja memahami pacaran sebatas relasi emosional tanpa menyadari batasan, risiko, dan konsekuensinya. Padahal, World Health Organization menegaskan bahwa kesehatan seksual dan reproduksi remaja merupakan fondasi kesehatan sepanjang daur hidup manusia. Kesalahan pengambilan keputusan pada masa remaja dapat berdampak jangka panjang, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat.
Self Love sebagai Ketahanan Diri Remaja
Self love sering disalahartikan sebagai sikap egois atau mementingkan diri sendiri. Padahal, dalam konteks kesehatan jiwa dan pembangunan manusia, self love adalah kemampuan individu untuk menghargai, melindungi, dan merawat dirinya secara utuh. Self love adalah rumah perlindungan diri. Rumah bagi diri sendiri merupakan zona aman tempat remaja dapat mengenali nilai hidup, menetapkan batas, dan mengambil keputusan sehat tanpa tekanan eksternal.
Ketahanan diri remaja dibangun melalui kemampuan mengatakan tidak pada hal-hal yang merusak kesehatan fisik dan mental. Dalam praktik edukasi kesehatan jiwa remaja, konsep self love dapat diterjemahkan ke dalam perilaku konkret, seperti menjauhi pergaulan bebas, tidak merokok, tidak mengonsumsi minuman keras, menolak narkoba, menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menghindari lingkungan toxic, mengisi waktu dengan kegiatan positif, dan fokus pada tujuan hidup.
Pendekatan ini sejalan dengan Pedoman Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja yang diterbitkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman tersebut menekankan pentingnya layanan promotif dan preventif yang membangun kesadaran remaja terhadap kesehatan fisik dan mental, bukan sekadar penanganan kasus setelah masalah terjadi.
Pacaran Sehat sebagai Isu Kebijakan Publik
Pacaran remaja sering kali diposisikan sebagai urusan privat. Padahal, dampak dari pacaran tidak sehat bersifat sistemik. Kehamilan tidak diinginkan dapat menyebabkan putus sekolah, pernikahan usia dini, dan kemiskinan antargenerasi. Penyalahgunaan zat dan gangguan kesehatan mental remaja meningkatkan beban sistem kesehatan dan sosial negara.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga ditegaskan bahwa tujuan pembangunan keluarga adalah mewujudkan keluarga berkualitas yang sehat, sejahtera, mandiri, dan harmonis. Ketahanan keluarga mencakup dimensi fisik, ekonomi, sosial, psikologis, dan spiritual. Seluruh dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan dari kualitas individu yang membentuk keluarga, termasuk pengalaman hidupnya pada masa remaja.
Dengan demikian, pacaran sehat dan edukasi self love harus ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan pencegahan. Negara tidak cukup hanya mengatur usia perkawinan atau memberikan sanksi administratif, tetapi juga wajib memastikan remaja memiliki kapasitas psikologis untuk melindungi dirinya sendiri.
Peran Sekolah dan Puskesmas dalam Kebijakan Pencegahan
Sekolah dan puskesmas merupakan dua institusi strategis dalam implementasi kebijakan kesehatan remaja. Sekolah adalah ruang sosial utama remaja, sementara puskesmas merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan primer. Integrasi edukasi kesehatan reproduksi dan kesehatan jiwa remaja di kedua institusi ini perlu diperkuat secara sistematis.
BKKBN dalam kebijakan pembangunan ketahanan keluarga menekankan pentingnya intervensi sejak dini. Edukasi tidak boleh bersifat insidental atau reaktif, tetapi menjadi program berkelanjutan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan remaja. Pendekatan berbasis self love memungkinkan remaja memahami bahwa menjaga diri bukanlah bentuk ketakutan, melainkan investasi masa depan.
Tenaga kesehatan dan pendidik perlu dibekali kapasitas komunikasi yang empatik dan tidak menghakimi. Remaja membutuhkan ruang aman untuk bertanya, bercerita, dan berkonsultasi. Ketika remaja merasa didengar dan dihargai, mereka lebih terbuka untuk menerima nilai dan pengetahuan yang ditanamkan.
Implikasi Kebijakan bagi Ketahanan Keluarga
Mengarusutamakan self love dalam kebijakan remaja memiliki implikasi jangka panjang terhadap ketahanan keluarga Indonesia. Remaja yang memiliki ketahanan diri akan tumbuh menjadi dewasa yang mampu membangun relasi sehat, merencanakan keluarga secara bertanggung jawab, dan menjalani peran sebagai orang tua dengan kesiapan fisik dan mental.
Ketahanan keluarga tidak lahir secara tiba-tiba pada saat pernikahan, tetapi dibentuk sejak masa remaja melalui pola pikir, nilai, dan kebiasaan hidup. Oleh karena itu, investasi kebijakan pada kesehatan jiwa dan reproduksi remaja merupakan langkah strategis untuk menekan angka perceraian, kemiskinan struktural, dan masalah sosial lainnya di masa depan.
Penutup
Self love bukan sekadar konsep psikologis, melainkan strategi kebijakan pencegahan yang relevan dengan konteks Indonesia. Menjadikan self love sebagai rumah perlindungan diri remaja berarti membekali generasi muda dengan kemampuan menjaga tubuh, jiwa, dan masa depannya. Pacaran sehat, edukasi kesehatan reproduksi, dan penguatan ketahanan diri harus diposisikan sebagai bagian integral dari kebijakan pembangunan keluarga.
Jika negara ingin membangun keluarga yang berkualitas dan generasi yang tangguh, maka perhatian terhadap kesehatan jiwa dan self love remaja tidak boleh ditunda. Dari remaja yang mencintai dirinya sendiri, akan lahir keluarga yang kuat. Dari keluarga yang kuat, masa depan bangsa Indonesia dibangun.
Daftar Pustaka .
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
Lagu Perempuan Indoenesia Zamrud Khatulistiwa
Pencipta lagu Gede Jerson
Berdasarkan puisi Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa karya Novita Sari Yahya